mortem

malam hening
ada angin
kering,
dingin
di mana aku?

mengapa dingin di sini?
selimutku kabut
tebal
berkemelut kalut

dingin,
sunyi di sini
sepi sekali
takut aku sendiri

aku terbaring,
bertabur puing
nadiku beku
selimutku kabut
cungkupku malam
merinding aku,
takut

dingin
dingin
dingin
tak ingin!

aku
lihat
maut
menyambut
perempuan hitam
berselubung kabung

samar kudengar
isak haru mendayu
lagu-lagu syahdu
berderu

takut aku di sini
tak mau di sini

dingin…

Jakarta, 24 Mei 2012
Iyos Kusuma

Balada Dewa

alunkan balada dewa
dan menyanyiku untuknya
syahdu,
dalam tidurnya sang jingga
hingga esok ia tiba ujung senja
biar malamnya tidak diam
biar malamnya tak kelam

alunkanlah balada dewa!
dan menyanyiku untuknya

di sana
di antara yang seharusnya tiada

Jakarta, 19 April 2012
Iyos Kusuma

Alma mater.

Alma mater.

Kidung Pagi

Sambutlah pagi
Maknai peluk hangat hari
dalam seruput secangkir kopi
Pahami cerita malam tadi
kala mentari menyapa hujan paruh malam
Maknai, pahami
Ini bukan personifikasi
Ini tentang jiwa-jiwa di sudut pagi

Jakarta, 18 April 2012
Iyos Kusuma

Cungkup Pagi

Hujan paruh malam
Senandung hilang tak bersisa
Lenyap,
tertutup guruh tetabuh di awan
Seperti hujan,
hapus jejak kaki di baruh bentala

Kau selalu diam,
bahkan tak bergumam
Tiada sadar apalagi paham
akan bahasa malam
akan langit yang bercerita
akan embun-embun yang berjiwa

Ah, adakah hujan turun pada pagi saja?
Biar tak serupa, biar matahari bersahaja
Awali saja hari esok dengan cungkup yang berbeda
Agar teduh kami di bawah bianglala

Jakarta, 18 April 2012
Iyos Kusuma

Batu

batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?

Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu beringin ingin tak teduh.

Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang lambai tak sampai. Kau tahu?

Batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji

Sutardji Calzoum Bachri

negeri berawan ungu

dulu
ada awan ungu
terapung di atas sawah gunung
dan di bawahnya tergantung;

“matahari
berwarna
biru”

tiada yang salah dengan itu
sebab memang begitu,
dulu

berlari seorang anak di sana
ceria, gemas tertawa
tapi lalu ia menangis
tersedu, tanpa sendu
tertawa-menangis
menangis-tertawa

dulu
di negeri berawan ungu;

ada
matahari
berwarna
biru.

Iyos Kusuma
Bandung, 23 Februari 2010

Cungkup Hitam

Cahaya malam
Suara malam
O, embun-embun yang kelam

Menyelinaplah pergi
Temui aku di sudut mimpi
Aku lagi sendiri

Ke sini!
Belailah hati, belahlah nadi
Antarkan aku pada kematian
Pada cungkup yang abadi

Jakarta, 9 April 2012
Iyos Kusuma

Candu

Ia perempuan yang menginjak surga
Bertahta atas genderang para dewa
Pergi,
hilang saja dalam kelana

Ia malaikat dengan secoreng dosa di keningnya
Menabur puji bagi pecandu puja
Menari,
Merdu bersyair merayu

..cuma aku yang tahu


Iyos Kusuma
Jakarta, 16 Maret 2012

Hambar

Bayangku luruh
Bayangku lumpuh
Padam seluruh
Padam di dasar baruh

Gelap, senyap
Hanya awan yang berderap
Pun langit berderit-derit

Sesekali semburat bulan menyelinap
Merayap masuk lewat celah pintu

Menyapa,
…agar bayangku suluh

Jakarta, 6 April 2012
Iyos Kusuma